Perusahaan enggan berlangganan software bukan karena mereka anti teknologi, tetapi karena banyak yang merasa model subscription sering lebih menguntungkan vendor daripada pelanggan. Di Indonesia, resistensinya bahkan lebih kuat karena faktor cashflow, procurement, dan budaya ownership.
1. Perasaan “Tidak Pernah Memiliki”
Dulu, perusahaan berpikir : Beli software → selesai → jadi aset
Namun sekarang: Berhenti bayar → sistem mati
Banyak direksi perusahaan merasa:
“Kami terus bayar, tapi tidak pernah benar-benar memiliki”
Ini sangat terasa pada sistem / software yang bukan "core" karena tidak ada unsur keberlangsungan hidup perusahaan secara langsung. Tapi mungkin bila ini ada Dan sangat membuat hidup/mati perusahaan, maka mau tidak mau mereka harus membayar secara tahunan.
2. Subscription = OPEX yang Tidak Pernah Berhenti
Masalah utama Dari sisi CFO:
- Subscription terlihat kecil di awal
- Tapi menjadi beban tahunan permanen
Contoh:
- Rp 300 juta/tahun
- 5 tahun = Rp 1,5 miliar
👉 Banyak perusahaan mulai sadar: “Total cost ternyata jauh lebih besar”. Dan ternyata ini bukan hanya software, tapi juga layanan cloud. Maka tidak heran banyak CFO menganjurkan kembali memiliki data center, dibandingkan menggunakan layanan cloud secara keseluruhan.
3. Ketakutan Harga Naik Mendadak
Ini yang paling sering terjadi apalagi posisi perusahaan lemah, karena bisa saja :
- Tahun pertama murah
- Renewal naik drastis
- Fitur penting dipindah ke tier lebih mahal
Akibatnya:
- Perusahaan merasa “disandera”
4. Vendor Lock-in
Semakin lama subscription, maka perusahaan akan merasa :
- Data makin terkunci
- Integrasi makin kompleks
- Migrasi makin mahal
Perusahaan takut:
“Kalau vendor berubah arah, kami bagaimana?”
Ini sangat sensitif untuk:
- Pemerintah
- BUMN
- Infrastruktur kritikal
5. ROI Tidak Selalu Terlihat
Masalah klasik:
- Vendor jual fitur
- Tapi tidak menunjukkan impact bisnis
Akhirnya direksi berpikir:
“Mengapa harus bayar terus?”
Terutama untuk software yang bukan "core" bisnis. Diantaranya termasuk:
- Monitoring tools
- Collaboration apps
- Dashboard systems
6. Terlalu Banyak Subscription Sekarang
Sekarang semua software sudah jadi subscription:
- Cloud
- Security
- Monitoring
- Backup
- AI
- Productivity
Akibatnya, perusahaan mengalami apa yang disebut sebagai :
- SaaS fatigue
- Subscription fatigue
7. Kondisi Indonesia Berbeda dengan US/Eropa
Di Indonesia jelas sangat berbeda dengan USA/Eropa yang sudah sangat terbiasa dengan pola subcription. Karena :
- Banyak perusahaan masih konservatif. INGAT 98% bisnis Indonesia adalah UMKM Dan UKM.
- Budget tahunan tidak stabil, terutama budget terkait dengan rate USD.
- Kurs USD membuat biaya subscription berisiko
Selain itu:
- Procurement pemerintah lebih nyaman CAPEX
- Subscription sering dianggap “biaya berjalan tanpa aset”
8. AI Membuat Orang Mulai Bertanya
Perusahaan mulai berpikir:
“Kalau AI/open source bisa menggantikan sebagian fungsi software mahal, mengapa kami terus bayar?”
Ini ancaman besar untuk vendor subscription tradisional.
Bila license anda MATI, tidak berfungsi. Jangan panik, solusinya hanya tinggal BAYAR saja.

Kesimpulan Besar
Banyak Perusahaan sebenarnya bukan anti subscription.
Mereka anti:
- Ketergantungan
- Kenaikan biaya tak terkontrol
- Vendor lock-in
- Subscription tanpa value bisnis jelas
Dan inilah alasan: 🔥 Open source + managed service akan semakin kuat di Indonesia 2026–2030. Nantikan solusi ITXM untuk membantu anda.
